Hoping - Leaving
Jika semuanya selesai, aku akan pergi secara menyeluruh, tanpa menoleh lagi ke arah mu.
Kenapa manusia sangat menyukai ketidakpastian yang sangat mengusik jiwa? Padahal yang mereka cari 'katanya' adalah sebuah kedamaian hati yang tiada henti?
"Kenapa kita selalu mengulang pattern yang sama" ucapnya
Pertanyaan yang aku sendiri pun tidak mampu untuk menjawabnya, bukan tidak ingin melainkan hanya ya benar tidak menemukan jawabannya. Pertanyaan sesederhana itu pun aku tidak tahu jawabannya.
Dari beribu banyak manusia, kenapa harus kamu?
Beribu kali kata maaf terlontarkan dari mulut ku untuk diriku sendiri yang tidak pernah berhenti berharap pada sosok manusia yang selalu mengecewakan dan menghancurkan harapan besar yang ku embankan kepada dirinya. Walau dia tidak meminta ku untuk menaruh harapku padanya, tapi apa daya diri ini tidak bisa untuk berhenti.
Sometime i ask my self, why being this much? There's nothing so special about you to make me feel special. Bukankah lelaki itu tugasnya sudah jelas untuk memimpin ya? Tapi dirimu yang bingung untuk memilih diriku pun, aku masih memilihmu. Jelas aneh dan tidak masuk di akal ku.
"Kamu ga mau sama teman ku? Dia suka kamu dari SMA dulu" ujarmu mematahkan harapan ku
Pernyataan yang seharusnya tidak menggetarkan hati ku sekarang rasanya aku hanya bisa terdiam atas kepergianmu yang sudah terbiasa aku lalui. Tapi aku semakin berpikir, apakah hadirmu itu adalah sebuah hadir yang selalu aku nanti dan dambakan selama ini? Apakah benar?
Tapi aku berpikir, apa benar aku mau sosok sepertimu yang akan mendampingiku seumur hidupku? Sedangkan sikapmu saja seperti itu. Aku mulai meragu dengan semua ketidakpastian yang engkau tampilkan saat ini.
Kamu bilang, aku harus cari yang bisa memimpinku, yang umurnya lebih tua dariku. Aku paham tujuanmu, tapi apa iya aku mau dengan lelaki yang rela aku dengan orang lain sedangkan ia sadar aku menginginkan dirimu.
Aku bukan orang yang baik, jauh dari kata sempurna. Benar adanya. Tapi apakah tidak ada seorang pun yang ditakdirkan Tuhan untuk menerima semua kurangku?
Sepertinya aku hanya kurang bersyukur, dipertemukan dengan orang yang tepat tapi waktunya tidak tepat.
Sedih, terpuruk, stress, banyak alasanku untuk menolak cinta baru.
"mungkin nanti" harapku sembari menyelesaikan semua urusan perkuliahanku yang tiada hentinya ini.
Mungkin memang benar bahwa urusan percintaan dan pendidikan itu tidak bisa didampingkan bersama ya?
Baiklah kalau begitu, aku ikut rencana terbaik yang sudah Tuhan susun saja untuk ku. Aku tidak perlu memaksa semua harus sesuai dengan kehendak ku saja. Terlalu egois yang bertele-tele jika harus sesuai dengan apa yang ku harapkan ya?
"Setidaknya aku jadi yang pertama kau kabari
kapan pun kau panggil
ku ke situ
berlari"
Bernadya - Berlari
Komentar