Reveal - 5 years and still counting

     Aku kembali ke belenggu kehadiran dirimu, lagi dan lagi. Percakapan terakhir dengan dirimu membawa ku kembali ke masa betapa menyenangkannya berteman dengan mu tanpa melibatkan perasaan. Haha. 

    Dirimu yang mengatakan bahwa orang yang dulu mendorongku menjauh ternyata adalah benar dirimu, ya, kamu yang mengatakan bahwa bukan kamu yang mendekati aku dan membuat jarak sedekat itu dengan ku. Sangat menyedihkan bukan? Aku dengan bodohnya menaruh perasaan ku yang tidak seberapa itu hanya untuk merasakan kehilangan dirimu lagi dan lagi. 

    Aku sekarang sudah berumur 22 tahun dan banyak perkembangan yang terjadi di diriku. Aku, wanita SMA yang masih anak-anak itu dulu sangat mencintaimu dan menaruh harapan yang sangat besar pada dirimu. Padahal kamu sudah dari awal kedekatan kita, selalu memberitahuku untuk tidak perlu berharap padamu. Aku yang masih belia itu tidak mengerti, memaksa, meminta semuanya untuk berjalan seuai dengan keinginanku semuanya. Namun, aku sekarang mengerti, dengan semua apa yang selalu kamu minta. Kamu ingin orang tidak berekspektasi banyak denganmu. Aku mngerti maksudmu. 

    Kepergianmu terakhir kali menjadi tolak ukur semua tingkah laku ku, betapa tidak pantasnya aku untuk berharap pada sosok sempurna seperti dirimu.  

"Dengar-dengar kamu kemarin sudah punya pacar?"

-Deg-

    Pertanyaan yang sangat menamparku malam itu. Iya benar bahwa aku sangat menyukai dirimu, tapi kehilangan dirimu berkali-kali bukan hal yang mudah bagi ku. Aku sangat mencintai dirimu. Tapi apa daya, aku sosok tidak sempurna yang bisa menjadi seperti dirimu yang menerapkan prinsip 'kalau bisa tidak merepotkan orang lain'.

    Aku menjadikan perpisahan 29 Januari 2026 kemarin menjadi sebuah refleksi diri. Betapa banyak hal yang perlu diperbaiki. Aku senang. Kamu akhirnya mengajakku mengobrol sebagai sosok dirimu yang sebenarnya dan tidak membuat identitas lain yang bisa kau gunakan untuk melarikan diri dari diriku seperti yang lalu. 

    Hai, aku masih merindukan dirimu, tapi akan aku coba sebisaku untuk tidak lagi menghubungimu. Aku akan menjaga batasan yang kau buat untuk menjaga martabatku dan kamu. Aku mendukung semua keputusanmu, kau lelaki yang baik. Kau tau bagaimana menghormati hubungan antara laki-laki dan perempuan yang pada zaman ini sudah tidak karuan lagi, batasan yang kian semakin pudar. 

    Hai, bisakah suatu hari nanti kita dipertemukan lagi? Tapi tidak dengan kita saling menhubungi, melainkan takdir yang menuntunmu dan aku untuk bertemu. Tapi alangkah malangnya diriku, menanti dirimu tanpa tuju.

"Tapi apakah tidak bisa ditunggu" ucapku lirih bertanya padamu malam itu

"Sepertinya kalau menunggu akan terlalu lama, rugi di kamu" balasmu

Aku tidak tahu harus apa dengan semua ini, aku tau kamu  tidak ingin aku berharap padamu. Tapi apa daya, diriku tidak mampu melupa. Aku benci saat dirimu mengatakan bahwa aku sebaiknya mencari yang lebih tua, ia yang bisa membimbingku lebih baik. Bagaimana dengan dirimu? Tidakkah kau menoleh sedikit saja ke arah ku? 

    Aku tidak tau apa yang seharusnya aku lakukan kedepannya, aku hanya ingin fokus dengan masa depanku saja saat ini, aku tidak akan mengganggumu. Ku relakan dirimu, wahai my only cold hearted men. 

I miss you a lot.. 
Hope you will see how much i love you..

God, if he's the one, make it easy for me and him 
God, if he's not meant for me, let this heart let him go 

Aamiin


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Depression - Lie

Hal yang menjadi favorit para wanita

Marah itu sesaat tapi sisanya ya... Kecewa